Bangga Sebagai Wong Ndeso

January 17, 2007

Desa dimiliki oleh orang kota; kota dimiliki orang desa.
Petani mencari kerja di kota; orang kota mencari kekayaan di desa
.
(Franky Sahilatua)

"Ketika desa sudah tumbuh, upaya kontekstualisasi spirit  bagi masyarakat kota pun dikembangkan. Kalau di desa gerakannya dimulai dari peningkatan produksi pertanian dan pendapatan petani melalui perbaikan teknologi, pembangunan fasilitas desa, dan rumah-rumah penduduk, di kota diarahkan pada keharmonisan kehidupan industrial (pemodal-buruh), penguatan hubungan ketetanggaan, gerakan hemat energi, dan cinta lingkungan. Juga, orang kota didorong untuk mendukung SU di pedesaan. Ini bisa dilakukan karena adanya transformasi sikap mental orang kota; dari individual menjadi kooperatif.

Inti semua itu mengisyaratkan bahwa proses ke arah kemajuan harus dilakukan secara bersama-sama; antara orang desa dengan orang kota, antara petani dengan pengusaha industri, antara pemodal dengan buruh, dan antara pemerintah dengan rakyat.

Tentu, dengan segenap pengorbanan semua pihak. Jangan seperti sekarang ini, hubungan desa-kota di kota bersifat asimetris. Orang kota lebih banyak menarik keuntungan dari desa, dari pada orang desa menarik keuntungan dari orang kota. Akibatnya ketimpangan desa-kota menjadi makin tajam, dan kota serta industri tumbuh tanpa basis pedesaan yang kuat. Dan, pada akhirnya hanya orang kota yang "tinggal landas" sementara orang desa hanya "tinggal di landasan" bahkan "tinggal menjadi landasan".

Ternyata desa dan kota saling membutuhkan tiada satu dari itu terjadi ketimpangan jadi sebagai wong yang ndeso seperti saya, tentunya perlu mempertahankan kendesoan saya tetapi bukan berarti ndak tau apa apa, wong ndeso yang bisa mengikuti informasi yang ada, berwawasan luas, berorientasi keilmuan dan penerapanya tidak hanya high education but no application in daily life. Big mouth without real action.

Better be wong ndeso dengan segala kesederhanaan dari pada jadi orang kota yang menganut faham free in everything. Wong ndeso yang moralitas di kedepankan tanggung jawab jadi kebanggaan, walaupun tanpa pengawasan semua yang jadi kewajiban di laksanakan dengan ikhlas ngru nguri kabudayan walaupun musik dan kesenanganya campur sari lan wayang kulit bukan berarti terbelakang justru have big appresiasion dari pada musik cadas hingar bingar tapi akar root daru budaya sendiri gak ngerti itu akan  memiliki nilai tambah. Apakah kemodernitasan itu di ukur dari gaya hidup free, music yang tailor made , style yang tailor made alias sama kalau di lA anak muda pakai anting di kemanggisan anak muda pakai anting juga all tailor made . Sungguh blind thinking and welcome to the darkness kalau yang dalam otak terfikir seperti itu. Sebagai wong ndeso saya berfikir bahwa kemanjuan itu kemodernisan itu tolok ukurnya justru back to individual kita masing gimana mentransformasikan antara keilmuan, kemampuan dan real action kita. Buat apa kalau maju tapi orang lain yang melakukan kita hanya jadi penonton jadi penganut tapi gak bisa mengikuti apalagi membut terobasan just jadi follower lama lama just be a looser and just big mouth or dalam njowo itu timun bungkik jogo imbuh .

 

Dari pada banyak berkoar yang gak ada gunanya better tingkatkan kualitas diri, kejar ilmu banyak hal yang perlu kita tingkatkan, karena dengan kualitas keilmuan kita yang makin meningkat tentunya dari segi  ekonomi pun bakal mengikuti. Wong ndeso wong ndeso. Luar Biasa. So berbanggalah jadi wong ndeso jangan berbanga bangga di sebut wong kota kalau just nothing. Dan banyak orang yang berasal dari wong ndeso  tapi jadi leader bahkan mereka jadi orang sukses tapi tidak menghilangkan kendesoanya. misalkan tokoh nasioanal gusdur, amin rais SBY. mereka masih menggunakan bahasa jowo sebagai bahasanya, masih memegang kebudayaan jawanya, apakah itu bisa di bilang suatu hal yang ketinggalan alias tidak modern apakah orang orang sekelas mereka bisa di bilang gak modern, luar biasa wong ndeso menyang kuto tapi tetep nguru nguri desane gak mung dadi timun bungkik jogo imbuh. Gak mung gede omonge gak ono kasunyatane.

Salam dari wong ndeso puncaing gunung suruh.